PasarModern.com,
BATAM – Air laut sore itu tampak tenang, seolah ikut mengantar sang mentari kembali ke peraduannya.
Angin senja berhembus semilir, membawa gemerisik suara pompong yang hilir mudik memecah lautan lepas di sekitar Pulau Belakangpadang.
Gelombang buyar oleh hantaman lambung perahu yang mengangkut warga pulau, mereka yang setiap hari menyeberang bekerja ke Batam, lalu kembali saat langit mulai meremang.
Dari kejauhan, dermaga Pelabuhan Kuning berdiri gagah, menyambut kedatangan pompong terakhir bak penjaga setia pulau yang dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu itu.
Saat mentari turun perlahan, cahaya dari penjuru pulau mulai menyala satu per satu, berpadu dengan kilau lampu Singapura yang tampak jelas dari kejauhan. Sebuah pemandangan yang hanya dimiliki tempat yang berada di garis depan, di batas negeri.
Di satu sudut pulau seberang Batam itu, dari dapur sederhana di sebuah rumah pelantar di pinggir laut, aroma keripik singkong yang tengah digoreng menjadi saksi perjalanan panjang Rustini. Perempuan berusia 39 tahun asal Bondowoso, Jawa Timur, yang kini berhasil membawa usaha rumahan miliknya dikenal wisatawan mancanegara.
Brand “Camilan Kak Ros”, yang lahir dari tangan dinginnya sejak awal pandemi Covid-19, kini menjadi salah satu buah tangan favorit turis Singapura ketika berwisata ke Pulau Belakangpadang.
“Orang Singapura suka keripik singkong original. Sekali datang kesini, mereka bisa beli sampai 5 kg, terkadang ada juga yang pesannya dari reseller,” kata ibu dari dua orang anak ini saat ditemui di rumahnya, Sabtu (22/11/2025).
Dari logat Melayu yang khas, wanita asli Jawa Timur ini tampak sudah menyatu dengan budaya dan kearifan lokal di Pulau Penawar Rindu.
Perjalanan Rustini tidak dimulai dari ambisi prestisius. Ia datang membawa asa besar ketika pergi merantau mengikuti kakaknya ke Batam sekitar 20 tahun silam.
Saat itu, ia mengingat pengalaman pertamanya adalah bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan industri yang ada di Batam.
Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama, karena takdir membawanya ke jalan yang berbeda.
Ia kemudian bertemu tambatan hatinya, Edi yang merupakan orang asli Belakangpadang dan tak lama setelah itu mereka menikah. Rustini pun berhenti bekerja demi mengurusi keluarga kecilnya.
Lantaran merasa bosan dan tidak ingin menganggur, Rustini mencoba berkreasi seadanya, lahirlah keripik keluarga bermerk “Mak Iyah” pada tahun 2007.
“Saya mulai tertarik berwirausaha karena dulu mertua jualan keripik,” katanya lagi.
Namun, hasratnya untuk mulai berwirausaha harus dipendam dulu karena kehamilan anak pertama. Ia baru kembali aktif sekitar 2011–2012.
“Saat itu, saya hanya buat keripik singkong kecil-kecilan di rumah yang dulu berlokasi di Puskopkar Batuaji. Saat itu niatnya bantu ekonomi keluarga, tapi malah keterusan,” ungkap wanita berhijab ini.
Lantaran kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Rustini harus membagi waktu antara usaha keripiknya dan keluarganya. Alhasil, Keripik Mak Iyah pun hanya jalan di tempat.
Semuanya berubah tatkala suaminya, yang seorang pegawai kantor pos dipindahkan ke Pulau Belakangpadang pada tahun 2020 tepat sebelum pandemi Covid-19.
Saat itu, anaknya sudah mulai besar, sehingga ia memutuskan untuk memulai lembaran baru dalam berwirausaha.
Di pulau yang berlokasi tak jauh dari Singapura itu, Rustini sering dipanggil dengan nama Ros. Karena sudah melekat dengan kesehariannya, ia memutuskan rebranding merk keripiknya dengan nama baru yakni “Cemilan Kak Ros”.
Namun, pandemi Covid-19 yang menyisakan banyak cerita kelam beberapa tahun lalu bukanlah sebuah lagu pengantar yang indah bagi sebuah awal yang baru.
Cemilan ‘Kak Ros’ pun ikut merasakannya, rasa yang sama yang juga dirasakan oleh banyak pelaku industri rumahan di Batam.
“Saat aktivitas ekonomi melambat dan wisatawan sepi pas Covid-19, saya justru memutuskan membangun brand baru bernama Camilan Kak Ros yang terinspirasi dari panggilannya sendiri. Di situlah tantangannya,” tuturnya saat mengingat masa-masa sulit tersebut.
Di masa sulit itu, ia masih mengolah singkong jadi keripik. Namun melihat perkembangan yang ada, ia melihat harus ada sedikit sentuhan perubahan, terutama untuk variasi rasa.
“Di Belakangpadang, saya buat variasi yang baru, tambah keripik ubi jalar, pisang dan sukun karena takut orang bosan, dan juga biar ada pilihan,” ungkapnya.
Meski sempat terpukul karena pembeli hampir tidak ada saat pandemi, Rustini tetap bertahan. Tak ada kata menyerah dalam kamusnya.
Satu disiplin yang tetap ia jaga hingga saat ini, yakni tidak pernah menggunakan penyedap rasa. Orisinalitas dari sisi rasa itu menurutnya penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan.
“Orang Singapura itu suka rasa yang orisinal tanpa bumbu-bumbu tambahan. Orang-orang vegetarian juga suka. Inilah yang jadi keyakinan saya untuk tetap menjaga kualitas rasa, tanpa perlu penyedap rasa,” tuturnya.
Ketika pembatasan pandemi mulai longgar pada 2021, penjualan langsung melonjak.
Produksi yang dulu hanya menghabiskan 50 kilogram singkong seminggu, kini meningkat drastis menjadi 50 kilogram per hari, bergiliran dengan jenis keripik lain.
Melihat produksi harian yang semakin meningkat, bahkan suami Rustini pun memutuskan pensiun dini demi membantu istrinya.
Jadilah pasangan suami istri ini bersama dua orang anaknya yang mulai beranjak dewasa menjadi kuartet lengkap dari tim produksi Camilan ‘Kak Ros’.
Rustini dan keluarganya sekarang mampu memproduksi 300 bungkus camilan setiap hari, dan hingga 600–700 bungkus untuk pesanan besar.
Satu bungkus berisi 1 ons, sementara pesanan kiloan, terutama singkong original bisa mencapai harga 70 ribu rupiah per kilogram.
Pembelinya pun semakin beragam, mulai dari warga Batam, penjual yang menitipkan dagangan, reseller, hingga pelanggan Singapura yang membeli langsung dalam jumlah besar.
Beberapa pelanggan dari Batam bahkan rela menanggung biaya kapal speedboat jika pesanan yang diminta cukup besar, termasuk pelanggan tetap dari komunitas Tionghoa.
“Dari hotel di Batam juga ada pelanggan saya, Hotel Pacific itu, sudah cocok di rasa dan harga,” katanya sumringah.
Setiap hari setelah Subuh, Rustini memulai rutinitas produksi, mulai dari mengupas, memarut secara manual, mencuci, menyaring, hingga menggoreng tanpa bahan pengawet.
Proses produksi hingga pengemasan ini bisa berlangsung sepanjang hari. Meski begitu, proses manual masih menjadi tantangan, terutama karena Rustini belum menemukan mesin parut yang sesuai kebutuhan produksi.
“Proses yang paling lama itu mengupas. Saya pernah makai mesin parut listrik, tapi tak bertahan lama. Makanya sekarang masih manual, dan itu yang buat lama,” paparnya.
Suplai bahan baku adalah kendala lain, terutama keladi dan ubi jalar. Hampir semua bahan didatangkan dari Batam, kecuali pisang yang berasal dari kebun-kebun di Belakangpadang.
Rustini menyebut biasanya ia memesan dari orang-orang di pasar untuk mengambilkan bahan baku dari Batam, yang kemudian langsung diantarkan ke rumahnya dalam jumlah yang cukup besar.
“Keladi dan ubi jalar paling langka, sementara singkong harus dipesan harian karena tidak bisa disimpan terlalu lama. Dalam sehari, mungkin saya membutuhkan lebih dari 100 kilogram bahan baku agar bisa produksi,” katanya sambil menghitung-hitung estimasi produksi.
Pengembangan UMKM di Belakangpadang
Belakang Padang: UMKM Jadi Denyut Nadi Baru Ekonomi Pesisir
Saat malam tiba dan lampu-lampu kecil kembali memantulkan sinarnya ke permukaan laut, Belakangpadang tampak seperti pulau kecil yang sederhana namun penuh daya hidup.
Ia bukan sekadar kawasan penyeberangan menuju Batam atau Singapura. Ia adalah nadi ekonomi bagi ratusan pulau kecil lainnya, tempat tradisi dan modernitas saling menyesuaikan diri.
Dari geliat pasar, dari nelayan yang berangkat sebelum fajar, dari tekong yang setia mengantar warga melintasi selat, hingga peluang besar pariwisata maritim yang sedang tumbuh, Belakangpadang perlahan menegaskan posisinya sebagai sebuah etalase batas negeri yang kaya cerita, berpotensi besar, dan terus bertumbuh bersama warganya.
Belakangpadang bukan hanya satu pulau, tapi merupakan salah satu kecamatan di Batam yang menaungi 166 pulau kecil, tiga di antaranya Pulau Nipa, Pelampong, dan Batu Berenti yang merupakan pulau terluar Indonesia. Dari sisi historis, Pulau Penawar Rindu merupakan pusat pemerintahan awal Kota Batam sekitar tahun 1960-an.
Total luas wilayahnya mencapai 581,55 kilometer, dihuni lebih dari 20 ribu jiwa dengan keberagaman suku seperti Jawa, Melayu, Padang, Tionghoa, dan pendatang lainnya yang sejak lama menjadikan pulau ini rumah.
Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai nelayan dan pembudidaya hasil laut. Sementara banyak anak muda menjadi pekerja di Batam, pagi menyeberang dengan perahu pancung, sore kembali ke pangkuan keluarga.
Di daratan, becak menjadi kendaraan khas yang setia membawa warga dari dermaga ke rumah atau pasar.
Sebagai pusat aktivitas ekonomi. Warga dari pulau-pulau sekitar seperti Kasu dan Terung rutin menyeberang untuk berbelanja kebutuhan pokok, membayar listrik, hingga mengurus asuransi.
Kini, Belakangpadang tidak hanya dikenal sebagai daerah nelayan dan penyeberangan. Ia mulai menjadi etalase pariwisata maritim.
Kehadiran resort di Pulau Nirup, sekitar lima kilometer dari Belakangpadang menjadi pemantik geliat wisatawi mancanegara, khususnya dari Singapura yang berlayar dengan kapal ferry.
“Tidak mungkin wisatawan hanya diam di satu pulau. Di sini ada tiga jenis wisata, kuliner, budaya, dan sejarah. Semuanya alami, otentik, dan hidup dari keseharian masyarakat,” kata Camat Belakangpadang, Hanafi.
Kemenarikannya memang tidak dibuat-buat. Wisatawan dapat mencicipi laksa khas, menyaksikan kehidupan nelayan, berkeliling kampung tua, hingga merasakan keseruan naik becak menyusuri jalanan kecil pulau.
Dalam satu dasawarsa terakhir, Belakangpadang memang terus menunjukkan diri sebagai daerah sadar wisata. Pembenahan demi pembehanan terus dilakukan, mulai dari infrastruktur hingga destinasi wisata.
Warga setempat sadar dengan semakin cepatnya perubahan zaman, mereka tidak hanya bisa mengandalkan laut untuk menopang hidup.
Kolaborasi UMKM dan pariwisata dianggap menjadi senjata ampuh yang tengah didorong untuk membawa Pulau Penawar Rindu memiliki daya tawar yang tinggi di mata wisatawan.
Tidak heran, beragam UMKM terus tumbuh menjadi denyut ekonomi baru yang menopang pulau yang berjarak hanya 15 menit dengan speedboat dari Pulau Batam ini.
Hanafi mengungkapkan bahwa kawasan ini kini berada pada fase percepatan pengembangan ekonomi berbasis pariwisata dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Di Batam termasuk juga Kecamatan Belakangpadang, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kota Batam mencatat ada sebanyak 1.748 pelaku UMKM berada di bawah binaan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, dan lebih dari 75% merupakan UMKM di sektor kuliner.
Secara keseluruhan, UMKM di Batam terdiri dari 1.376 pelaku usaha kuliner, 199 pelaku industri kreatif, 88 pelaku usaha jasa, 46 pelaku usaha obat tradisional, 11 pelaku usaha pertanian dan peternakan dan satu pelaku usaha perikanan.
Menurut Hanafi, setiap kali ada gelaran acara atau akhir pekan panjang, kawasan pusat jualan warga selalu dipadati pedagang.
“Yang daftar jualan bisa sampai 40 UMKM, sebagian memakai tenda. Banyak toko ikut buka, suasananya ramai sekali,” ujarnya.
UMKM kuliner Melayu, keripik, dan berbagai makanan khas semakin diminati, termasuk oleh pengunjung dari Singapura yang datang secara individu maupun rombongan kecil.
Tak hanya kuliner, jasa transportasi lokal juga ketiban rezeki.
“Becak dan ojek sering habis disewa ketika kunjungan meningkat,” kata Hanafi.
Bahkan penyewaan perahu pancing dan layanan wisata singkat keliling pulau juga ikut tumbuh.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa wisata Belakangpadang mulai menjadi alternatif destinasi tanpa perlu perjalanan jauh.
“Wisatawan sekarang cari tempat yang tak suntuk, dekat, tapi punya suasana lain. Belakangpadang bisa menawarkan itu,” tambahnya.
Pihak kecamatan juga mendorong tumbuhnya usaha penginapan, dari homestay hingga wisma sederhana. Beberapa di antaranya diminati untuk longstay, terutama oleh warga dari luar negeri yang tertarik merasakan suasana kampung tepi laut yang tenang.
Hanafi menyebut ada potensi besar jika penginapan dan spot foto dapat dikembangkan lebih rapi dan terintegrasi dengan jalur wisata.
Pembenahan destinasi wisata juga terus dilakukan sebagai bagian dari perluasan kawasan wisata. “Kita sedang titik-titik wisata lainnya agar lebih tertata. UMKM juga harus ikut bergeliat, karena mereka tulang punggung ekonomi Belakangpadang,” katanya.
Meski demikian, Hanafi mengakui pelaku UMKM masih menghadapi kendala, terutama saat lonjakan wisatawan terjadi mendadak. Namun dengan dukungan pemerintah, ia optimistis ekonomi lokal dapat terus tumbuh.
“Kita ingin Belakangpadang bukan hanya ramai saat Imlek atau momen tertentu. Tapi menjadi destinasi harian yang hidup, didukung UMKM kuat, wisata bahari yang tertata, dan layanan yang siap menyambut wisatawan siapa saja—termasuk dari luar negeri,” tegas Hanafi.
Dengan dinamika yang terus meningkat—mulai dari kuliner, perikanan, rekreasi, transportasi lokal, hingga wisata laut, Belakangpadang bergerak menuju wajah baru sebagai kawasan pesisir yang maju, mandiri, dan semakin diperhitungkan dalam peta pariwisata Batam.
QRIS di Belakangpadang, Langkah Baru Dongkrak UMKM dan Wisata
BI Perwakilan Kepri mendorong percepatan digitalisasi transaksi di wilayah hinterland Batam melalui gelaran “Berlayar di Pulau Belakangpadang”, yang merupakan sebuah agenda edukasi dan sosialisasi penggunaan QRIS serta layanan pojok digital bagi pelaku usaha dan masyarakat setempat, 16 November 2025.
Pulau Belakangpadang yang berlokasi di sebelah utara Pulau Batam dipilih sebagai lokasi perdana kegiatan ini karena memiliki nilai historis sebagai salah satu kawasan awal pengembangan Kota Batam, sekaligus berada di posisi strategis yang berhadapan langsung dengan Singapura.
BI melihat potensi besar ekonomi kawasan tersebut, terutama dari arus wisatawan asing dan domestik yang rutin berkunjung.
“Kami ingin mengenalkan kembali bahwa Belakangpadang punya sejarah penting dan potensi ekonomi yang besar. Kedekatan dengan Singapura menjadi peluang untuk memperkuat pemanfaatan cross-border QRIS bagi wisatawan mancanegara,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus.
Melalui program berlayar, BI memperkenalkan lebih luas penggunaan QRIS di berbagai sektor ekonomi lokal—mulai dari pedagang pasar, rumah makan, hingga transportasi tradisional seperti pom-pom dan becak motor.
Sejauh ini, BI belum mengompilasi data lengkap jumlah transaksi digital di Belakangpadang, namun menilai potensinya sangat besar.
“Kita tidak mewajibkan, tetapi menganjurkan agar semakin banyak pelaku usaha menggunakan QRIS. Ini langkah awal untuk meningkatkan literasi dan inklusi digital,” jelasnya.
BI menegaskan bahwa sebelum dapat menggunakan QRIS, pelaku usaha tetap harus membuka rekening terlebih dahulu untuk diterbitkan kode QR resmi.
Dari kegiatan berlayar ini, fokus utama BI Kepri adalah edukasi, peningkatan literasi, dan pembukaan akses bagi masyarakat agar semakin familier dengan ekosistem pembayaran digital.
“Ini merupakan langkah awal. Ke depan, kami akan mengidentifikasi sekitar 28 pulau lain di wilayah hinterland Batam yang berpotensi dikembangkan melalui program serupa,” ujarnya.
Melalui penguatan digitalisasi, BI berharap aktivitas ekonomi Belakangpadang semakin bergairah dan mampu menarik manfaat lebih besar dari pergerakan wisatawan maupun aktivitas perdagangan lintas batas.
UMKM Kepri Kian Digital Berkat QRIS
Sejak diluncurkan Bank Indonesia (BI) pada 17 Agustus 2019, hingga saat ini QRIS telah menjadi pilihan utama dari retail besar, pelaku UMKM hingga para pedagang kaki lima di Provinsi Kepri.
Berdasarkan data terakhir dari BI Perwakilan Kepri, jumlah pengguna baru QRIS hingga September 2025 sudah mencapai 539.337 pengguna.
Sedangkan jumlah merchant pengguna QRIS pada periode yang sama sudah mencapai 653.192, dimana sekitar 80% berada di Batam.
Sementara itu, volume dan nominal transaksi QRIS hingga September 2025 telah mencapai 64,94 juta transaksi dengan nilai nominal Rp 7,71 triliun.
Kepala BI Kepri Rony Widijarto mengatakan nilai tersebut meningkat pesat dari transaksi QRIS tahun 2024 sebesar 33,94 juta transaksi.
“Secara keseluruhan peningkatannya mencapai 181,93% (yoy) dari tahun 2024,” katanya di Batam.
Secara nominal transaksi, totalnya telah mencapai Rp 7,71 triliun atau mengalami peningkatan 140,62% dari tahun 2024 yang mencapai Rp 5,03 triliun.
“Peningkatan akseptasi QRIS di Kepri menjadi indikasi kuat bahwa masyarakat dan pelaku usaha semakin nyaman bertransaksi secara digital. Ekosistem QRIS terus berkembang, terutama di sektor perdagangan dan jasa,” katanya lagi.
Pertumbuhan jumlah merchant di Kepri sebagian besar berasal dari sektor UMKM, ritel, dan usaha kuliner yang kini mulai mengandalkan transaksi nontunai sebagai metode pembayaran utama.
BI mencatat sejumlah faktor pendorong utama pertumbuhan ini, di antaranya kemudahan proses registrasi merchant, edukasi publik mengenai transaksi digital, serta kehadiran fitur QRIS Tuntas, yang memungkinkan transaksi secara cepat dan efisien antarbank dan antar wilayah.
