Desa Manyarejo Sragen, Penemuan Fosil Kuno yang Menarik

Posted on

Situs Purbakala di Manyarejo, Sragen yang Menjadi Tempat Belajar Arkeolog Muda

Sragen, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, dikenal luas sebagai tempat berdirinya Situs Sangiran, yang merupakan kawasan wisata purbakala terlengkap di Asia. Namun, selain Situs Sangiran, Sragen juga menyimpan kekayaan sejarah lainnya yang tak kalah penting, yaitu kawasan di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh. Wilayah ini menjadi pusat penelitian arkeologi yang menarik perhatian para ilmuwan dan mahasiswa untuk mengungkap cerita kehidupan manusia purba serta makhluk lain pada zaman prasejarah.

Program Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) telah berlangsung di desa tersebut sejak 2023. Program ini melibatkan berbagai pihak seperti peneliti, arkeolog, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada tahun 2025, PATI dilaksanakan untuk ketujuh kalinya, dengan fokus pada pencarian data kehidupan fauna dan manusia dalam endapan yang diprediksi sebagai Horison Budaya. Horison Budaya ini mencerminkan perkembangan kebudayaan masa pertengahan di Pulau Jawa.

Kegiatan PATI 2025 melibatkan kolaborasi antara Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta enam universitas ternama di Indonesia, yaitu Universitas Jambi (UNJA), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Udayana (UNUD), Universitas Hasanudin (UNHAS), dan Universitas Halu Oleo (UHO). Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 20 Agustus 2025 dan menjadi wadah bagi para mahasiswa dan dosen dari program studi Arkeologi di seluruh Indonesia.

Rochtri Agung Bawono, Koordinator PATI 2025, menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini ditemukan total 36 temuan fosil tulang yang terdiri dari femur, vertebra, long bone, fragmen gading, gigi, dan tanduk. Ia menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud komitmen lintas sektor dalam pelestarian Situs Sangiran sebagai warisan budaya dunia UNESCO, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi arkeolog muda Indonesia.

Desa Manyarejo dipilih sebagai lokasi penelitian karena signifikansinya sebagai Kawasan Cagar Budaya dalam UNESCO dan sebagai penyumbang fosil terbesar di kawasan Sangiran. Selain itu, masyarakat setempat juga aktif dalam perlindungan kawasan dan temuan-temuan fosil. Penelitian lapangan dengan tema “Menggali Horison Budaya Masa Lalu Sangiran” dibagi menjadi dua kegiatan utama, yaitu ekskavasi dan konservasi, yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen pembimbing, dan tenaga lokal.

Dalam kegiatan ekskavasi, ditemukan 36 fragmen tulang dan gerabah. Sementara itu, tim konservasi melakukan konservasi alami terhadap temuan yang disimpan di rumah-rumah Mpu Balung maupun di lokasi aslinya. Sebanyak 58 temuan berhasil dikonservasi, baik dari rumah Mpu Balung maupun di lokasi ekskavasi. Selain itu, tim konservasi juga melakukan klasifikasi terhadap 1.303 total temuan.

Rencananya, situs Manyarejo akan dijadikan museum terbuka (in-situ) sehingga pengunjung dapat melihat langsung fosil di tempat mereka ditemukan. Dalam PATI 2025, setiap universitas mengirimkan 6 mahasiswa yang dibagi menjadi empat kelompok ekskavasi dan dua kelompok konservasi. Harapan besar dipegang agar semakin banyak mahasiswa yang tertarik dengan kegiatan penelitian arkeologi ini.

Wakil Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo, S. Indrawati Djojohadikusumo, menekankan bahwa PATI menjadi wadah belajar, saling berbagi pengetahuan, dan kolaborasi bagi civitas akademik arkeologi, khususnya mahasiswa arkeologi di seluruh Indonesia. Ia menambahkan bahwa di Sangiran, sebagai situs warisan dunia UNESCO, tersimpan kapsul waktu peradaban manusia pada masa Pleistosen.

Marlia Yulianti Rosyidah, Pj. Unit Museum Manusia Purba Sangiran, menyebutkan bahwa PATI sudah dilaksanakan tiga kali di Manyarejo. Program ini menjadi komitmen yang sangat baik untuk arkeologi dan pelestarian Sangiran sebagai cagar budaya karena melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat setempat. Ia menilai masyarakat Manyarejo sangat aktif dalam melestarikan warisan budaya.

Herry Yogaswara, Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN, menyampaikan bahwa dengan adanya PATI, ekosistem penelitian arkeologi akan terus terjalin dengan baik. Ia menekankan bahwa kegiatan ekskavasi tidak hanya menggali masa lalu, tetapi juga menjadi pelajaran bagi masa kini dan masa depan.