Peran Syekh Yusuf dan Tuan Guru dalam Menyebarluaskan Islam di Afrika Selatan

Posted on

Sejarah Perjuangan Ulama Nusantara di Afrika Selatan

Pada masa kolonial, banyak pejuang dari Nusantara yang diasingkan ke berbagai wilayah di luar negeri. Salah satu contohnya adalah Syekh Yusuf Al-Makassari dan Tuan Guru, yang dibuang ke Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika Selatan. Meskipun tinggal jauh dari tanah air, keduanya tetap berjuang dengan memperjuangkan nilai-nilai Islam, pendidikan, serta semangat kebebasan. Inilah yang menjadi awal mula hubungan sejarah antara Indonesia dan Afrika Selatan.

Jejak Syekh Yusuf dan Tuan Guru

Syekh Yusuf Al-Makassari lahir pada 3 Juli 1926, atau dalam kalender Hijriah, 8 Syawal 1036 H. Ia dilahirkan di Istana Tallo, Gowa, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1694, ia diasingkan ke Cape Town karena perjuangannya melawan penjajah. Syekh Yusuf meninggal pada 23 Mei 1699. Dalam kurun waktu lima tahun, ia berhasil menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Sementara itu, Tuan Guru, yang merupakan putra dari Kesultanan Tidore di Maluku Utara, juga diasingkan ke Cape Town pada 6 April 1780. Ia ditahan oleh pemerintah Kolonial Belanda karena dituduh berkonspirasi dengan pemerintah Inggris. Meski begitu, keduanya tidak pernah menyerah. Mereka terus bergerak untuk membawa nilai-nilai kebebasan dan pendidikan kepada masyarakat setempat.

Penghargaan dan Warisan

Berkat perjuangannya, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Afrika Selatan pada 2005 oleh Presiden Oliver Reginald Tambo. Kini, warisan Syekh Yusuf dan Tuan Guru menjadi simbol ikatan sejarah antara Indonesia dan Afrika Selatan. Mereka diingat sebagai tokoh yang menjaga nilai-nilai keislaman dan keadilan.

Peran diaspora Indonesia di Afrika Selatan sangat penting dalam melestarikan warisan ini. Terutama masyarakat Cape Malay, yang menganggap perjuangan Syekh Yusuf dan Tuan Guru sebagai inspirasi. Untuk menjaga persatuan dan kebersamaan, mereka rutin menggelar berbagai kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan bersama KJRI Cape Town.

Beasiswa untuk Generasi Muda

Dalam rangka memperkuat hubungan antara Indonesia dan Afrika Selatan, khususnya di bidang pendidikan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menawarkan beasiswa bagi 10 pelajar dari komunitas diaspora Cape Town. Mereka dapat melanjutkan studi di berbagai Universitas Muhammadiyah di Indonesia.

Beasiswa ini disampaikan dalam jamuan makan malam di Wisma Konjen RI Cape Town. Hadir dalam acara tersebut tokoh-tokoh agama setempat seperti Imam Adam Philander dan Syeikh Mutaqien, keturunan generasi ke-5 Tuan Guru. Menurut Abdul Mu’ti, beasiswa ini bukan hanya investasi pendidikan, tetapi juga jembatan budaya yang akan memperkuat hubungan antara Indonesia dan masyarakat Cape Town.

Respons Positif dari Masyarakat Setempat

Inisiatif ini mendapat respons positif dari para tokoh agama dan masyarakat Cape Town. Mereka menilai program ini sangat penting untuk memajukan generasi muda Cape Malay dan memperkuat ikatan sosial budaya yang sudah ada selama ratusan tahun.

Kunjungan Abdul Mu’ti dilakukan dalam rangka menghadiri G20 Interfaith Forum di Cape Town, Afrika Selatan, yang berlangsung dari 10 hingga 14 Agustus 2025. Acara ini menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama antar bangsa, khususnya dalam hal kepercayaan dan budaya.