Sisa Pengantri Lebaran masih Berderau di Pantai Pangandaran

Posted on


Laporan Kontributor Pangandaran, Padna


, PANGANDARAN –

Setelah masa liburan Lebaran tahun 2025, kunjungan wisatawan ke Pantai Barat Pangandaran Jawa Barat perlahan berkurang dan menjadi sepi pengunjung.

Itu terjadi pada Jum’at, 11 April 2025 di waktu subuh. Pantai barat Pangandaran sepi dengan kehadiran hanya segelintir wisatawan saat itu.

Walaupun suhu sedang tinggi dan langit mendung, mereka kelihatan sangat enjoy melakukan aktivitas sambil memandangi pemandangan alam yang memesona di tepian pantai.

Banyak pengunjung yang berenang di lautan, memainkan pasir, serta menyebrangi kepulauan menuju pantai berpasir putih menggunakan kapal wisata.

Hendrawan (34), seorang turis dari Garut, menyebutkan bahwa ini adalah perjalanan pertamanya ke Pantai Pangandaran setelah liburan Idul Fitri yang lalu.

“Hendrawan mengatakan bahwa karena dia tetap bekerja saat liburan Lebaran yang lalu, barulah sekarang ia bisa pergi bersama keluarganya ke Pangandaran,” tuturnya kepada Tribun Jabar di dekat Pos 3 Pantai Barat Pangandaran pada hari Jumat pagi.

Mempertimbangkan kunjungan ke Pantai Pangandaran dikarenakan pemandangan pantainya yang menakjubkan serta terdapat banyak area untuk aktivitas permainan air.

“Maka, di sini terdapat area untuk berenang. Anak-anak biasanya suka bermain dengan air. Kami merencanakan akan menghabiskan waktu selama dua hari di Pangandaran,” jelasnya.

Karena itu, selain untuk berlibur, mereka juga akan mengunjungi kerabat yang tinggal di Kecamatan Padaherang. “Benar, kami ingin bertamu sekaligus beristirahat,” kata Hendrawan.

Ratningsih (32), seorang penjual minuman di Pantai Barat Pangandaran, menyebutkan bahwa setelah liburan Idul Fitri, jumlah pengunjung masih terbilang lumayan banyak.

“Sekarang ini, berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Masih ada beberapa wisatawan yang merupakan sisa dari masa liburan Idulfitri,” katanya.

Menurut dia, hal ini berbeda dari liburan lebaran pada tahun 2024 yang cuma heboh selama empat hari saja dan kemudian menjadi sunyi kembali.

“Iya, dulunya paling hanya sampai empat hari saja yang ramai. Namun sekarang, alhamdulillah masih tetap mendapat kunjungan turis,” kata Ratningsih. (*)