Wisatawan ramai ke Yogya saat libur Nataru, benarkah Bali mulai ditinggalkan?

Posted on

Ringkasan Berita:

  • Lonjakan wisatawan di Yogyakarta saat libur Nataru menegaskan daya tarik kuat destinasi budaya dengan harga ramah kantong. 
  • Sementara itu, Bali menghadapi isu “sepi turis” yang dibantah pemerintah daerah dan Kemenpar dengan data kedatangan wisman yang justru meningkat.
  • Fenomena ini menunjukkan persaingan destinasi wisata domestik sekaligus pentingnya menjaga kualitas layanan dan persebaran wisatawan agar pariwisata Indonesia tetap berkelanjutan.

PasarModern.comLonjakan wisatawan di Yogyakarta belakangan ini memunculkan pertanyaan.

Apakah Bali mulai ditinggalkan turis?

Pulau Dewata yang selama ini menjadi ikon pariwisata Indonesia kini harus menghadapi sorotan baru, ketika Yogya tampil sebagai destinasi favorit dengan budaya, sejarah, dan harga yang lebih ramah kantong.

Libur Nataru, Wisatawan Serbu Yogyakarta

Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 membawa berkah bagi sektor pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyebut reservasi hotel sejak 20 Desember hingga 2 Januari awalnya hanya berkisar 30–40 persen. Namun, angka okupansi kini sudah mencapai 61 persen.

“Di tanggal 21 Desember itu 60 persen, ini banyak yang offline datang langsung ke hotel (memesan),” kata Deddy, Senin (22/12/2025).

Melihat tren tersebut, PHRI optimistis target okupansi 80 persen bisa terlampaui. “Target hanya 80 persen, tapi kelihatannya dari target ini bisa naik,” ujarnya.

Menariknya, ramainya wisatawan di Yogyakarta berbanding terbalik dengan kondisi di Bali.

Menurut Deddy, banyak wisatawan yang semula berencana ke Pulau Dewata justru membatalkan perjalanan dan memilih berkunjung ke Yogyakarta.

“Banyak mereka rencana ke Bali mengurungkan lalu ke Jogja. Ini menguntungkan kita tapi harus mewaspadai kemacetan dan lain-lain,” katanya.

Deddy menekankan agar pelaku usaha tidak bersikap aji mumpung saat wisatawan ramai berdatangan.

“Jangan aji mumpung, seperti yang disampaikan pak gubernur ke anggota kami. Jangan manfaatkan momentum Nataru untuk aji mumpung, ini tempat kita promosi,” tegasnya.

Selama libur Nataru, PHRI DIY juga menerapkan batas atas dan bawah tarif kamar hotel. “Kita ada batas atas dan bawah, batas atas 40 persen dari rate (harga hotel),” jelas Deddy.

Malioboro Diprediksi Diserbu 1,5 Juta Wisatawan

Kawasan Malioboro, jantung Kota Yogyakarta, diperkirakan akan diserbu wisatawan secara besar-besaran pada libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Prediksi jumlah kunjungan mencapai 1,5 juta orang selama dua pekan masa liburan.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraeni, menyebut proyeksi tersebut didasarkan pada data kunjungan tahun lalu serta tren pergerakan wisatawan yang masuk ke DIY.

“Kalau melihat data BPS tahun lalu, kunjungan dua minggu libur Nataru itu mencapai 500.000 orang. Tahun ini dengan asumsi per hari 60.000–100.000 pengunjung dikalikan 14 hari, kita bisa mencapai angka 1,4 juta hingga 1,5 juta pengunjung,” ujarnya, Kamis (25/12/2025).

Indikator kuat diperoleh dari data masuk di Teras Malioboro (TM). Pada akhir pekan 20–22 Desember 2025, tercatat 64.000 pengunjung di titik relokasi pedagang kaki lima tersebut.

Anggi menjelaskan, pengunjung TM sekitar 20–30 persen dari total orang di kawasan Malioboro. Artinya, total kunjungan bisa menyentuh 100.000 orang per hari.

Mayoritas wisatawan masih didominasi pelancong domestik dari Jawa Tengah, DIY, dan wilayah lain di Pulau Jawa.

Puncak kepadatan diprediksi terjadi mulai Jumat (26/12/2025) hingga malam pergantian tahun. 

“Prediksi kami di weekend besok, mulai tanggal 26, 27 Desember sampai malam tahun baru nanti, kenaikannya akan cukup tajam. Angka harian bisa konsisten di atas 30.000 pengunjung, bahkan lebih,” pungkasnya.

Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY, GKR Bendara, mengimbau warga Jogja untuk bersabar menghadapi lonjakan wisatawan.

“Harus bersabar dengan kondisi Nataru, karena roda perekonomian kita ditopang banyak oleh pariwisata, sehingga akhir tahun itu selalu tinggi,” katanya.

Ia juga mengingatkan wisatawan untuk menjaga etika selama berlibur di Yogyakarta.

“Untuk wisatawan tolong hargai kebudayaan kita yang ada. Jangan buang sampah sembarangan, jangan foto-foto di jalan, gunakanlah trotoar. Tetap jaga kebersihan dan sopan santun. Selamat menikmati akhir tahun,” ujarnya.

Fenomena ini menegaskan bahwa Yogyakarta masih menjadi destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus membawa dampak positif bagi UMKM yang menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata.

Dispar Bali Tepis Isu Wisatawan Lebih Pilih Yogya

Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bali menanggapi isu wisatawan lebih banyak memilih berlibur ke Yogyakarta dibandingkan ke Bali pada momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kepala Dispar Bali, I Wayan Sumarajaya, menilai isu tersebut hanyalah narasi lama yang kembali diangkat tanpa dasar data yang jelas.

“Soal wisatawan banyak ke Yogyakarta dibandingkan ke Bali ini sepertinya isu lama yang muncul lagi. Padahal saat ini arah pembangunan pariwisata Bali sudah sangat jelas,” ujarnya, Jumat (26/12/2025).

Sumarajaya menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali kini fokus membangun pariwisata berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat, bukan semata-mata mengejar angka kunjungan.

Menurutnya, budaya Bali merupakan kekuatan utama yang menjadi pembeda dengan destinasi lain di Indonesia maupun dunia.

“Budaya adalah kekuatan pariwisata Bali. Karena itu yang kami dorong adalah peningkatan kualitas layanan, kenyamanan wisatawan, sekaligus memastikan masyarakat lokal juga merasakan manfaat dari pariwisata,” tegasnya.

Ia menjelaskan pembangunan pariwisata Bali diarahkan pada keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Konsep ini sejalan dengan visi pariwisata Bali yang berkelanjutan serta berorientasi pada kualitas wisatawan, bukan kuantitas semata.

Terkait perbandingan jumlah kunjungan wisatawan antara Bali dan Yogyakarta selama libur Nataru, pihaknya menyatakan masih melakukan koordinasi dengan Dispar DIY untuk memperoleh data valid.

“Kami tidak ingin berspekulasi. Untuk memastikan kebenaran isu tersebut, kami masih berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Yogyakarta. Data yang akurat sangat penting agar tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat,” jelasnya.

Sumarajaya juga mengingatkan bahwa Bali memiliki karakteristik dan segmentasi wisatawan yang berbeda dengan destinasi lain. Pulau Dewata tidak hanya menjadi tujuan liburan, tetapi juga pusat kegiatan budaya, spiritual, MICE, serta pariwisata berbasis kearifan lokal.

Dengan berbagai agenda budaya, peningkatan standar pelayanan, serta penguatan tata kelola destinasi, ia optimistis pariwisata Bali tetap memiliki daya tarik kuat, khususnya pada momentum libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru.

“Yang terpenting adalah menjaga kualitas, kenyamanan, dan keharmonisan antara wisatawan, masyarakat, dan lingkungan,” pungkasnya.

Data Dishub Bali: Kedatangan Wisman di Bandara Ngurah Rai Naik 20 Persen Saat Libur Nataru

Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali merilis laporan rekapitulasi data pintu masuk Bali pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.

Berdasarkan catatan periode 18–25 Desember 2025, jumlah penumpang domestik maupun internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai menunjukkan tren peningkatan signifikan.

Penumpang Domestik

Total keberangkatan: 101.655 orang

Total kedatangan: 122.311 orang  

Angka ini tercatat dari rata-rata harian 10–16 ribu penumpang, dengan puncak kedatangan pada 24 Desember mencapai 16.779 orang.

Penumpang Internasional

Total keberangkatan: 143.770 orang

Total kedatangan: 179.737 orang  

Rata-rata kedatangan wisman per hari mencapai 22–23 ribu orang, lebih tinggi dibanding periode Nataru 2024 yang hanya 18–20 ribu orang per hari. Puncak kedatangan terjadi pada 24 Desember dengan 23.808 orang.

Pergerakan Pesawat

Domestik: 828 keberangkatan dan 831 kedatangan

Internasional: 893 keberangkatan dan 891 kedatangan

Jumlah penerbangan internasional lebih padat dibanding periode sama tahun lalu, menandakan lonjakan mobilitas wisatawan.

Dishub Bali menilai peningkatan ini didorong oleh pola libur panjang di sejumlah negara asal wisatawan, serta momentum akhir tahun yang selalu menjadi periode favorit berlibur.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, libur Nataru 2025/2026 mencatat kenaikan 10–20 persen kedatangan wisman.

Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa Bali sepi wisatawan, dengan data menunjukkan destinasi Pulau Dewata tetap menjadi magnet utama turis internasional.

Isu Bali Sepi Viral di Medsos, Gubernur Koster dan Kemenpar Tegaskan Wisatawan Justru Meningkat

Belakangan ini media sosial diramaikan dengan narasi bahwa Bali semakin sepi wisatawan, terutama pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Warganet bahkan menyebut kondisi Pulau Dewata mirip dengan masa pandemi Covid-19 beberapa tahun silam.

Namun, Gubernur Bali I Wayan Koster membantah keras isu tersebut. Ia menegaskan bahwa jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali justru mengalami peningkatan.

“Jumlah wisatawan mancanegara berkunjung ke Bali tahun 2024 mencapai 6,3 juta orang dan sampai 22 Desember 2025 mencapai 6,8 juta orang, meningkat 500 ribu orang. Sampai akhir Desember diperkirakan mencapai 7 juta orang,” kata Koster, Rabu (24/12/2025).

Beberapa hari sebelumnya, Koster juga menyebut isu Bali sepi sebagai kebohongan. Ia mengklaim setiap hari ada sekitar 17 ribu wisatawan asing yang masuk ke Bali.

“Bohong, saya punya data. Setiap hari totalnya meningkat,” tegasnya.

Tanggapan juga datang dari Kementerian Pariwisata RI. Plh. Deputi Bidang Pemasaran, Dedi Ahmad Kurnia, berharap narasi Bali sepi hanya terjadi di media sosial. Menurutnya, aktivitas pariwisata di Bali masih berjalan normal.

“Mudah-mudahan narasi Bali sepi memang hanya terjadi di media sosial, karena menurut pemantauan kami pergerakan, tingkat okupansi, akomodasi, serta kunjungan ke daerah pariwisata masih berjalan,” ujarnya dalam program Zona Bisnis Metro TV, Rabu.

Dedi mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai periode Januari–Oktober 2025 tumbuh positif 11,07 persen.

Hanya Februari yang mencatat pertumbuhan negatif -2,20 persen. Dari 15 pasar utama, hanya Singapura yang mengalami penurunan -3,6 persen.

Menurutnya, wisatawan Singapura kini mencari daya tarik baru di Bali. Karena itu, Kemenpar mendorong promosi destinasi di Bali utara dan barat agar penyebaran wisatawan lebih merata.

“Indonesia, terutama Bali, tetap menjadi tujuan wisata nomor satu di Asia Tenggara,” tegas Dedi.

Ia menambahkan, tantangan pariwisata Indonesia saat ini bukan soal sepinya wisatawan, melainkan perubahan pola liburan, pergeseran preferensi destinasi, serta faktor daya beli.

Meski demikian, Bali diyakini tetap menjadi magnet utama wisatawan mancanegara.