Pembagian agama Kristen di Asia Tenggara erat hubungannya dengan masa ekspansi para petualang dari daratan Eropa. Pada awal abad ke-16, kelompok seperti orang Portugis, Spanyol, dan Britania Raya—yang sebelumnya telah menganut keyakinan Kristiani—memulai perjalanan mereka mencari bumbu-bumbu eksotis di daerah Samudera Hindia, meliputi wilayah Asia Tenggara tersebut.
Ke Lima gereja lama yang tercantum di bawah ini adalah bukti awal persebaran agama Kristen di wilayah Asia Tenggara. Diantaranya ada salah satu yang dibangun di Jakarta dan juga merujuk pada gereja termuda di Indonesia.
1. Gereja St. Paul di Malaka
Walaupun terlihat hanya sebagai sisa-sisa reruntuhannya saja, Gereja St. Paul sebenarnya adalah gereja Katolik pertama di Malaysia. Bangunan ini dibuat pada tahun 1521 oleh Kapiten Portugal bernama Duarte Coelho dan awalnya disebut sebagai Chapeler dari Bunda Tuhan atau dalam bahasa Inggris lebih dikenali sebagai Chapel of Mother of God.
Mengunjungi wilayah Gereja St. Paul, Anda akan ditemani oleh patung Francis Xavier, sang misioner terkemuka di daerah Malaka. Di sini juga dapat diketahui bahwa ada jejak pemakaman Francis Xavier dalam kompleks gereja tersebut sebelum mayatnya dipindahkan ke Basilika Bom Jesus di Goa, India.
Setelah kehadiran orang Belanda di Malaka pada abad ke-17, Gereja St. Paul berhenti dipakai untuk ibadah. Di sisi lain, karena sebagian besar orang Belanda adalah penganut Kristen Protestan, mereka mendirikan Christ Church pada tahun 1753.
2. Gereja Minor Santa Niño di Cebu
Filipina adalah negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki proporsi pemeluk Kristen tertinggi, melebihi 85 persen. Fenomena ini banyak dipengaruhi oleh kehadiran orang Spanyol di wilayah Filipina pada abad keenambelasan.
Pada tahun 1565, seorang biarawan Spanyol bernama Fray Andres de Urdaneta menemukan patung Santo Niño dalam sebuah rumah kecil yang hampir hangus akibat api di daerah Cebu. Patung Santo Niño ini menggambarkan Kristus sebagai Sang Anak Suci.
Patung itu dipercaya berasal dari hadiah yang diberikan oleh Ferdinando Magellan kepada Rajah Humabon merayakan ulangtahun ke-40 baptis mereka. Rajah Humabon adalah raja Cebu pada tahun 1521 dan salah satu pendeta Kristiani pertama di kawasan Filipina.
Saat menemukan patung Santo Niño, seorang eksplorator Spanyol yang bernama Miguel Lopez de Legazpi sudah tiba di Cebu dan memulai pembangunan permukiman untuk orang-orang Spanyol. Dengan dipercayainya itu adalah suatu mukjizat berkat ketahanan api-nya, dibuatlah sebuah gereja tepat di lokasi rumah lama tempat ditemukannya patung Santo Niño tersebut.
Gereja itu awalnya diprakarsai oleh Fray Diego de Herrera menggunakan bahan dasar kayu dan atap dari daun nipah, serta dinamakan Gereja San Augustin. Walaupun bangunan ini berulangkali terkena kebakaran dan direnovasi secara bergantian sepanjang waktu, patung Santo Niño tetap selamat tanpa kerusakan.
Gereja yang ada saat ini dibangun melalui tahapan pembangunan yang diselesaikan pada tahun 1739. Gelar basilika minor diberikan kepada gereja itu secara resmi pada tahun 1965 oleh Paus Paulus VI. Dalam pernyataan serupa, Paus Paulus VI menyebut Basilica Minor del Santo Niño sebagai ikon awal kehadiran Kristian di Filipina.
3. Gereja Sion, Jakarta
Gereja Sion, yang juga dikenal sebagai GPIB Sion, merupakan salah satu dari beberapa gereja tertua di Jakarta. Konstruksinya telah dimulai sejak tahun 1692 berdasarkan inisiatif pegawai VOC serta pemimpin gereja di Batavia.
Setelah diselesaikan pada tahun 1695, bangunan ini diberi nama De Nieuwe Portugese Buitenkerk. Walaupun pernah tertutup selama penjajahan Jepang, gedung itu kemudian diresmikan kembali oleh pastor asal Inggeris yang bernama Charles Poire pada tahun 1951, saat ia merubah namanya menjadi Gereja Sion.
Gereja Sion menggabungkan gaya arsitektur Barok dengan Romawi Kuno. Di dalam bangunan ini, kita dapat melihat pipa organ yang terletak di lantai atas gereja. Berkat nilai historisnya yang tinggi, Gereka Sion dinyatakan sebagai Situs Warisan Budaya pada tahun 2017.
4. Gereja Santa Cruz, Bangkok
Kehadiran orang Portugal ke Thailand bermula pada tahun 1511 sesaat setelah pengambilalihan Malaka. Orang-orang Portugal serta pihak kerajaan Siamese di Ayutthaya kemudian meresmikan perjanjian perdamaian pada tahun 1516.
Hal-hal utama dalam perjanjian itu mencakup jaminan bahwa Portugis tidak berniat menduduki wilayah Kerajaan Siam dan pada saat yang sama mereka akan menerima perlengkapan senjata api sebagai bentuk dukungan. Dengan demikian, rezim di Kerajaan Siam setuju untuk menyediakan tempat tinggal, memfasilitasi perdagangan, serta melindungi kebebasan beribadah bagi warga Portugal.
Walaupun Ayutthaya sudah jatuh ke tangan pasukan Burma pada tahun 1767, tentara Portugal masih memainkan peranan penting dalam Kerajaan Siam. Berkat dukungannya yang berperan dalam pengusiran pasukan Burma dari wilayah Siam, pada tanggal 14 September 1769, Raja Taksin menyertakan hadiah sebuah lahan di Bangkok agar bisa digunakan sebagai tempat ibadah Gereja bagi komunitas Portugal.
Tanggal 14 Desember dipandang sebagai hari yang signifikan bagi umat Kristen karena ditetapkan sebagai perayaan temu kembali simbol salib oleh Santa Helena. Karena alasan itu pula, bangunan ini dinamai Santa Cruz atau secara harfiah berarti ‘Salib Suci’ dalam bahasa Spanyol.
5. Gereja Katedral Notre Dame di Saigon
Proses penyebaran agama Kristen ke Vietnam dimulai dengan kedatangan orang Prancis di akhir abad kesembilan belas. Setelah menduduki negara tersebut, membangun gereja menjadi salah satu tugas utama mereka.
Sayangnya, gedung gereja berbahan dasar kayu yang telah diselesaikan pada tahun 1865 itu tak mampu bertahan lama akibat serangan semut pelaku kerusakkan. Tahun-tahun selanjutnya, otoritas Perancis merombak kembali struktur gereja tersebut dengan mengimpor bahan-bahan secara eksklusif dari negara mereka sendiri dan proyek ini baru rampung di tahun 1880.
Patung Bunda Maria terbuat dari bahan granit yang diperoleh secara langsung dari Roma nampak berada di area depan gereja. Di tahun 1962, Paus John XXIII mengangkat Notre Dame Cathedral menjadi basilika usai menetapkan gereja itu sebagai keuskupan.
Secara umum, kehadiran agama Kristen di Asia Tenggara berawal dari kedatangan orang-orang Portugal, Spanyol, Belanda, dan Perancis. Kelima gereja ini turut mengabadikan jejak sejarah tentang upaya penyebaran agama Kristen yang telah dimulai sejak masa abad keenambelas.
