Keindahan Tersembunyi Danau Purba Sanghyang Heuleut
Di tengah hutan yang masih alami dan penuh ketenangan, terdapat sebuah danau yang menyimpan keindahan yang tak terduga. Nama danau ini adalah Danau Purba Sanghyang Heuleut, yang berada di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Meskipun disebut sebagai danau purba, bentuknya lebih mirip dengan telaga kecil yang dikelilingi oleh pepohonan hijau yang rindang.
Salah satu ciri khas dari Danau Sanghyang Heuleut adalah keberadaan batu-batu besar yang tersebar di sekitar danau. Batu-batu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Banyak dari mereka yang memanfaatkannya untuk berfoto atau bahkan melakukan aktivitas ekstrem seperti melompat dari tebing tinggi. Beberapa pengunjung berani naik ke tebing setinggi 10 meter untuk melompat langsung ke dalam danau. Sementara yang lain memilih berenang ke tengah danau dan melompat dari batu yang hanya setinggi 2 meter.
Berendam di danau ini sangat menyenangkan karena airnya segar dan udaranya sejuk. Suasana yang tenang membuat pengunjung merasa rileks dan nyaman. Namun, untuk mencapai lokasi danau ini, pengunjung harus melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Jalur yang biasa digunakan adalah melalui pendakian dari pintu masuk Batu Aki menuju Gunung Dipati Ukur yang memiliki ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Setelah sampai di puncak, pengunjung akan menuruni jalur yang berliku dan sempit untuk akhirnya tiba di Danau Purba Sanghyang Heuleut.
Perjalanan ini tidak mudah, tetapi bagi para pecinta petualangan, hal ini justru menjadi tantangan yang menarik. Salah satu kelompok yang pernah mengunjungi danau ini adalah Backpacker Bandung Raya (Barraya). Ketua Barraya, Hendra Bintang, mengatakan bahwa kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya. Pada kunjungan pertama, mereka menggunakan jalur susur sungai, namun saat ini jalur tersebut ditutup, sehingga mereka memilih jalur pendakian.
Meskipun harus mendaki, semua anggota Barraya tetap menikmati perjalanan. Mereka terbiasa dengan aktivitas ekstrem dan siap menghadapi medan yang sulit. Selama perjalanan, mereka dipandu oleh Kang Agus, yang selalu mengingatkan untuk berhati-hati. Cuaca yang cerah pada hari Minggu, 17 Agustus 2025, membantu proses perjalanan agar lebih lancar. Jika hujan turun, medan akan menjadi licin dan berbahaya.
Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, akhirnya para anggota Barraya tiba di Danau Purba Sanghyang Heuleut. Keindahan yang tersembunyi ini memberikan pengalaman yang luar biasa. Mas Dewo, anggota tertua dalam kelompok ini, mengungkapkan rasa syukur karena bisa mengikuti perjalanan yang penuh adrenalin meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Ia langsung berenang ke tengah danau tanpa menunggu pelampung.
Bu Damayanti, istri Mas Dewo, juga tidak kalah antusias. Ia langsung berbasah-basahan di air yang segar. “Tidak menyangka, di dalam hutan seperti ini, ternyata ada danau yang cantik,” ujarnya. Berbeda dengan Teh Yani dan Teh Manda yang lebih memilih foto-foto di bebatuan, mereka mengambil foto yang indah sebagai kenangan.
Mitos yang beredar di masyarakat setempat menyebutkan bahwa Danau Purba Sanghyang Heuleut merupakan tempat mandi para bidadari. Mitos ini membuat banyak orang penasaran. Bu Emma, Bu Lia, Bu Mien, dan Bu Anda langsung semangat untuk berendam di danau ini. Bu Mien bercanda, “Siapa tahu setelah berendam di sini bisa tambah cantik.”
Untuk masuk ke kawasan Danau Purba Sanghyang Heuleut, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp15 ribu per orang. Selain itu, ada juga jasa penyewaan pelampung yang harganya Rp15 ribu. Meskipun demikian, banyak pengunjung merasa bahwa perjalanan yang melelahkan ini sepadan dengan keindahan yang dilihat.




