Penurunan Lama Tinggal Wisatawan di Kepri: Perlu Solusi dan Strategi yang Tepat
Pengamat pariwisata Kepulauan Riau (Kepri), Siska Mandalia, menyampaikan beberapa masukan terkait penurunan lama tinggal atau length of stay wisatawan di wilayah tersebut. Ia menilai bahwa pemerintah daerah perlu segera mencari solusi agar wisatawan betah berada di Kepri. Menurutnya, data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kondisi lama tinggal turis dalam keadaan kritis. Meski demikian, ia belum memahami secara pasti apa yang dimaksud dengan “kritis” dalam konteks ini.
Siska menjelaskan bahwa angka rata-rata lama tinggal wisatawan di Kepri adalah 1,77 malam. Ia menegaskan bahwa penurunan lama tinggal tidak selalu menjadi masalah jika pengeluaran wisatawan meningkat. “Biasanya ada hubungan langsung antara lama tinggal dan pengeluaran. Jika lama tinggal menurun, asalkan pengeluarannya meningkat, itu bisa diterima,” ujarnya.
Kurang Daya Pikat dan Destinasi Wisata
Menurut Siska, salah satu penyebab penurunan lama tinggal wisatawan adalah kurangnya daya pikat dan destinasi wisata yang menarik. Hal ini membuat wisatawan tidak tertarik untuk lebih lama menghabiskan waktu di Batam atau Kepri. “Tidak ada alasan bagi wisatawan untuk mengeksplorasi lebih jauh Batam atau Kepri,” katanya.
Ia menyarankan pemerintah daerah melakukan kajian mendalam dan riset tentang perilaku wisatawan. Riset ini harus berbasis data dan dilakukan oleh ahli yang tepat. Contohnya, pemerintah dapat melakukan survei untuk mengetahui siapa saja yang datang ke Batam, motivasi mereka berkunjung, apakah karena acara MICE, event, atau medical tourism.
Selain itu, Siska menekankan pentingnya sinkronisasi dengan program Kementerian Pariwisata RI. Jika tidak sesuai, hal ini bisa menjadi kendala, terutama dalam hal program keberlanjutan yang selama ini digaungkan oleh pemerintah pusat.
Mengikuti Tren Wisata Global
Siska juga menyarankan agar Kepri mengikuti tren pariwisata global seperti purposeful travel, cultural travel, dan lainnya. Contoh dari negara-negara seperti Jepang dan Spanyol menunjukkan bagaimana mereka meningkatkan lama tinggal wisatawan dengan mengembangkan experiential cultural tourism. Misalnya, Jepang fokus pada budaya lokal, sementara Spanyol mengedepankan narasi sejarah dan pengembangan kawasan perjalanan kaki.
Ia menilai Kepri perlu memiliki destinasi wisata unggulan seperti industri, pelabuhan kreatif, budaya Melayu, dan ecotourism. “Batam dari dulu tidak bisa menetapkan destinasi unggulan. Unggulan Batam apa? Itu tidak jelas. Kalau ke Batam ngapain? Makan apa? Ada apa?” tanyanya.
Promosi dan Pelatihan SDM
Promosi menjadi faktor penting dalam meningkatkan minat wisatawan. Siska menyarankan penggunaan platform digital seperti Visit Batam untuk menampilkan paket wisata, transportasi, dan peta wisata. Selain itu, penggunaan influencer juga bisa efektif jika difokuskan pada storytelling dan pengalaman mendalam.
Selain promosi, pelatihan untuk SDM pelaku pariwisata juga sangat diperlukan. Banyak destinasi yang tersedia, tetapi jika SDM tidak terlatih, kesalahan dalam cara meng-engage turis bisa menjadi penyebab penurunan lama tinggal.
Memperkuat Pasar Wisatawan Singapura
Dari segi pasar, Siska menilai Batam berada di perbatasan, sehingga pemerintah daerah perlu merebut pasar wisatawan Singapura. Misalnya, wisatawan Thailand dan Malaysia yang singgah ke Singapura bisa diajak untuk mengunjungi Batam. “Jangan Singapura yang ambil pasar Batam. Misalnya, wisatawan itu 4 hari di Singapura, 3 hari di Batam. Itu tugas pemerintah agar bisa mengeksekusi rencana itu,” katanya.
