Penertiban Pengemis di Kawasan Makam Sunan Gunung Jati
Kawasan makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, kini menjadi perhatian serius dari pihak berwajib. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cirebon melakukan penertiban terhadap para pengemis yang sering kali mengganggu pengunjung dan peziarah. Tindakan ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan citra tempat wisata religi tersebut.
Kabid Tibumtranmas Satpol PP Kabupaten Cirebon, Soko Guruning Gemi, menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu pihaknya melakukan penyisiran dan berhasil mengamankan lima orang pengemis yang sedang meminta uang di kompleks wisata religi. Penyisiran tersebut dilakukan bersama dengan Polres Cirebon Kota (Ciko), Kodim 0620 Kabupaten Cirebon, Dinas Sosial (Dinsos), dan Dinas Perhubungan (Dishub). Kelima pengemis tersebut langsung diamankan dan diberikan pembinaan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan citra makam Sunan Gunung Jati sebagai salah satu destinasi wisata yang nyaman dan terjaga.
Selama ini, kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati dan keluarganya di Gunung Sembung sering menjadi tempat bagi pengemis, gelandangan, dan orang terlantar. Mereka sering kali memaksa peziarah untuk memberikan uang, sehingga mengganggu suasana keagamaan dan ketenangan di lokasi tersebut. Untuk mengatasi hal ini, pihak Satpol PP akan menempatkan anggota di lokasi tersebut agar dapat segera menindak jika ada tindakan tidak sesuai.
Penjagaan di kawasan makam akan diperketat, baik di pintu masuk maupun di dalam kompleks. Petugas akan langsung menindak jika ditemukan pengemis di area tersebut. Selain itu, pihak Satpol PP juga akan berkoordinasi dengan pihak keraton sebagai pemilik makam untuk memastikan adanya penertiban yang efektif.
Sebagai langkah pencegahan, Satpol PP juga akan memasang spanduk yang berisi larangan mengemis dan meminta-minta di kawasan wisata religi tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberi peringatan kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan aturan.
Keluhan Peziarah dan Wartawan
Beberapa peziarah dan wartawan mengeluhkan keberadaan pengemis yang sering kali memaksa mereka memberikan uang. Dwi, seorang wartawan media online di Cirebon, mengisahkan bahwa saat ia ingin masuk meliput, dirinya dihadang oleh sejumlah orang dewasa yang meminta uang. Meski ia tidak diadang, namun pengunjung lainnya sering kali mengalami hal serupa.
Hal yang sama dialami oleh Dedi, seorang wartawan lokal lainnya. Ia diminta memasukkan uang ke kotak kencleng yang disiapkan oleh pengemis. Namun, ia memilih untuk tidak merespons dan langsung masuk. Setelah selesai meliput, bukan lagi orang dewasa yang meminta uang, melainkan anak-anak kecil yang terus membuntuti.
Video viral di media sosial juga menunjukkan sekelompok pria yang memaksa peziarah memberikan uang sebelum bisa masuk. Bahkan, setelah keluar, para pengemis kembali mengejar dan meminta uang lagi. Ini membuat banyak pengunjung merasa tidak nyaman dan terganggu.
Perspektif dari Pokdarwis
Ahmad Umar, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Astana, mengakui bahwa keberadaan pengemis di kawasan makam memang mengganggu pengunjung. Banyak pengunjung yang mengeluhkan cara mereka meminta uang secara paksa. Dengan tindakan tegas yang dilakukan saat ini, Ahmad berharap dapat mengurangi keberadaan pengemis di kawasan makam tersebut.
Ahmad juga mengungkapkan bahwa sebagian pengemis di makam Sunan Gunung Jati memiliki pekerjaan tetap, meski pendapatannya pas-pasan. Mereka bekerja dari pagi hingga siang, lalu malamnya pergi ke makam. Ada juga lansia yang tidak diurus oleh keluarganya dan akhirnya menjadi pengemis di kawasan tersebut. Mereka pulang seminggu sekali.
