Kebun Lengkeng yang Menjadi Sumber Penghasilan di Riau
Di Provinsi Riau, banyak masyarakat memilih berkebun sebagai sumber penghasilan. Salah satu tanaman yang sering ditanam adalah kelapa sawit karena praktis dan harganya menjanjikan. Namun, kini sejumlah petani di Riau mulai beralih ke tanaman buah-buahan yang bisa dikonsumsi masyarakat luas. Selain memiliki nilai ekonomi yang baik, penanaman buah juga menjadi upaya untuk menciptakan lingkungan yang hijau dan melindungi dari cuaca panas.
Salah satu contoh adalah Sulis, seorang warga di Jalan Kadiran, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Ia dikenal sebagai petani sayuran sebelumnya, menanam bayam, kangkung, kacang panjang, timun, dan jenis sayuran lainnya. Namun, setelah melihat prospek yang bagus dalam menanam lengkeng, ia memutuskan untuk beralih.
Sulis memulai dengan menanam 120 batang lengkeng jenis kristal dan Itoh. Setelah dua tahun, tanamannya mulai berbuah. Dengan perawatan yang baik, ia mulai menikmati hasil panen dari lengkengnya. Kini, ia bersama teman-temannya mengembangkan kebun lengkeng di berbagai tempat di Riau, dengan jumlah pohon mencapai ratusan.
Menurut Sulis, alasan beralih ke lengkeng adalah karena merasa jenuh dengan menanam sayuran yang sudah banyak diminati. Selain itu, ia melihat potensi pasar yang besar untuk buah lengkeng.
Kebun milik Sulis terletak dekat Taman Agrowisata Tenayan Raya Pekanbaru, sehingga banyak pengunjung yang singgah ke kebunnya. Di sana, pengunjung bisa memetik buah langsung dari pohon dan menikmati suasana di saung yang disediakan. Sulis juga menjual buah lengkeng seharga Rp50 ribu per kilogram. Saat ini, permintaan pengunjung cukup tinggi, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
Selain menjual buah segar, Sulis juga menyediakan bibit lengkeng yang dicangkok dari kebunnya. Harga satu bibitnya adalah Rp150 ribu, dan banyak masyarakat yang tertarik menanam lengkeng di halaman rumah mereka.
Menurut Sulis, perawatan tanaman lengkeng tidak terlalu sulit. Ia hanya memberikan pupuk secara bergantian antara pupuk kandang dan kimia. Selain itu, hama yang sering mengganggu tanaman seperti kalong dan kelelawar tidak suka dengan buah lengkeng.
Pemeliharaan kebun juga dilakukan secara rutin oleh karyawan yang bekerja di sana. Kebersihan kebun dipertahankan agar pengunjung merasa nyaman saat berkunjung. Sulis juga sangat peduli dengan kualitas buah yang dihasilkan, sehingga menjaga kebersihan dan perlakuan yang baik terhadap tanaman.
Dengan kombinasi antara usaha pertanian dan wisata, kebun lengkeng milik Sulis menjadi salah satu contoh sukses dalam mengembangkan potensi pertanian di Riau. Bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai tempat rekreasi yang menarik bagi masyarakat.




