Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh di Jakarta
Bagi warga Aceh yang tinggal di Jakarta, Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh di Plaza Festival, Kuningan, Jakarta Selatan menjadi sarana untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman. Selama 10 hari, mulai dari tanggal 22 hingga 31 Agustus 2025, festival ini menyajikan berbagai macam masakan khas Aceh, mulai dari yang populer seperti mi Aceh hingga yang jarang ditemukan seperti sayur pliek u.
Salah satu pengunjung festival adalah Indah Ariani dari Tangerang, Banten. Ia datang bersama rombongan keluarga besar Aceh menggunakan tiga mobil yang berisi 16 orang. “Orang Aceh biasanya sengaja datang ketika ada informasi tentang festival kuliner Aceh karena rindu dengan masakan kampung,” kata Indah kepada Tempo, Rabu, 27 Agustus 2025.
Di Jakarta, meskipun sudah banyak tersedia masakan Aceh, terutama mi atau nasi gorengnya, di festival ini pengunjung bisa menemukan berbagai masakan yang sulit ditemukan di warung-warung Aceh pada hari biasa. Salah satunya yang paling diminati adalah kuah beulangong, sejenis kari dari daging kambing atau sapi dengan cita rasa rempah yang kuat. “Kuah beulangong jarang, jadi semua orang yang datang ke sini mencari itu karena mi Aceh sudah banyak,” ujar Indah.
Kuah beulangong dijual di warung Mie Aceh Meutuah seharga Rp 50 ribu per porsi, termasuk nasi. Di Jakarta, makanan ini sangat sulit ditemukan, bahkan di kedai makanan Aceh. Makanan berbahan daging kambing atau sapi ini hanya tersedia pada momen-momen penting seperti Maulid Nabi, halalbihalal, atau pesta pernikahan orang Aceh.
Indah juga senang menemukan pliek u, sejenis sayur dengan kuah bumbu rempah. Isinya mirip dengan lodeh, antara lain daun melinjo, melinjo, jagung, dan terong. Makanan ini paling enak disantap dengan ikan asin. Jadi, jika membeli sayur ini, pengunjung akan mendapatkan sepotong ikan asin.
Menurut Indah, orang Aceh umumnya sangat fanatik terhadap makanan dari daerahnya. Meskipun ia lahir dan besar di Tangerang, ia sering mencari makanan Aceh di Jakarta. Biasanya ia datang ke rumah makan Cut Nyak di daerah Bendungan Hilir atau Jambo Kupi di Pasar Minggu.
Ragam Kuliner Aceh yang Disajikan
Selain kuah beulangong dan mi Aceh, di festival ini pengunjung juga bisa menemukan nasi gurih, kari bebek, nasi tumpah kari, sate Aceh, martabak telur, martabak kubang, gulai batang pisang, kebuli, roti jala, dan rujak. Ada pula kue-kue tradisional seperti timpan, pulut bakar, dan roti sale samahani. Pilihan minumannya tentu ada kopi sanger, teh tarik, dan es timun.
Halim Thomas, koordinator kuliner di Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh, mengatakan bahwa ada beberapa makanan yang banyak diburu pengunjung. Selain kuah beulangong, pengunjung juga mencari mi Aceh dan mi bangladesh. Mi bangladesh, menurutnya, dibuat dari mi goreng instan ditambah dengan bumbu khas Aceh.
Kue basah dan rujak Aceh juga banyak diminati. “Kue basahnya timpan yang dibungkus daun pisang dengan isian kelapa dan srikaya. Ada juga yang dibungkus dengan daun dibakar, namanya pulut bakar,” ujar Halim.
Tujuan dan Antusiasme Pengunjung
Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh diselenggarakan oleh Taman Iskandar Muda, organisasi silaturahmi masyarakat Aceh di perantauan. Halim tak menyangka antusiasme masyarakat terhadap festival ini begitu tinggi. Bukan hanya untuk berburu kuliner, tetapi juga menyaksikan lomba tari ratoh jaroe yang diikuti ribuan siswa di Jakarta.
“Kami tidak membayangkan antusiasme masyarakat luar biasa, karena ini yang pertama kali diselenggarakan dalam rangka ulang tahun ke-75 Taman Iskandar Muda,” kata Halim.
Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh dimulai pada 22 Agustus, tetapi baru dibuka secara resmi pada Ahad, 24 Agustus 2025. Pembukaan dihadiri Wali Nangroe Aceh Teungku Malik Mahmud Al-Haytar.
Acara ini bukan hanya untuk mempromosikan kuliner dan seni budaya Serambi Makkah, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat Aceh di Jakarta.




