Menteri Lingkungan Hutan dan Titiek Soeharto Datangi Simpang Nol Sabang, Simbol Bersejarah Aceh

Posted on



, SABANG – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengawali kunjungan bersama Komisi IV DPR RI di Pulau Weh, Sabang. Tempat yang dipantau antara lain adalah Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Weh atau dikenal juga sebagai Titik Nol Sabang.

Pada kesempatan kali ini, Menhut Raja Antoni ikut serta membimbing Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto. Hadir juga beberapa anggota dari Komisi IV DPR RI bersama dengan Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko dan timnya.

Menteri Lingkungan Hidup membahas tentang manajemen area Taman Wisata Alam Pulau Weh dengan Komisi IV DPR RI.

Berikut ini adalah informasinya: Titik nol kilometer Sabang biasa dikenal sebagai simbol geografis paling barat dari wilayah Indonesia. Hal itu ditunjukkan oleh sebuah tugu titik nol yang berada di tepian tebing dan menghadap langsung ke arah Samudera Hindia.

Pada pertemuan tersebut disebutkan bahwa titik nol kilometer Sabang dikenal karena pesona lautnya atau kecantikan dasar lautan yang dimilikinya.

Di beberapa bulan, daerah ini pun berfungsi sebagai destinasi bagi burung migratory saat musim dingin, termasuk Elang Laut, Burung Kuntul sampai Bangau.

“Tempat ini sangat ikonik. Tidak hanya terkenal di Aceh saja tapi juga seluruh negara ini. Ini memiliki nilai sejarah yang signifikan,” demikian kata Menhut Raja Antoni, Rabu (9/4).

Saat ini, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyatakan dirinya merasa gembira karena bisa berada di titik nol kilometer Sabang.

Titiek Soeharto menyampaikan bahwa kunjungan kerja reses Komisi IV ini membuatnya sangat gembira karena kali pertama ia merasakan langkah kakinya di Titik Nol. Ia juga mengekspresikan kesenangan diri saat memandangi monumen terkenal tersebut dan harapannya agar suatu hari nanti dia dapat datang kembali dalam kondisi yang lebih baik.

Titiek kemudian mengomentari masalah jadwal migrasinya burung-burung yang melewati daerah Indonesia. Dia berpendapat bahwa aspek ini harus diiklankan karena bisa menjadi daya tarik unik untuk para turis.

“Begitu diketahui menjadi titik transit bagi perpindahan musiman burung, baru-baru ini saya melihatnya hanya di National Geographic bahwa sebenarnya mereka berhenti di Indonesia. Hal tersebut harus dipasarkan lebih lanjut, kapan tepat waktu kunjungan mereka yang teratur. Jadi ketika momen itu disebarkan, maka para pelancong dapat berkunjung ke sini,” jelas Titiek.

(flo/jpnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *