Upaya Melindungi Anggrek Khas Merapi: Simbol dan Keunikan Gunung Berapi Ini

Posted on





,


Yogyakarta


– Tanaman

anggrek

endemik Gunung Merapi, Vanda tricolor, telah menjadi salah satu ikon destinasi wisata di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Tanaman yang memiliki kombinasi warna putih, ungu, dan merah kekuningan, serta aroma harum yang khas, banyak tersebar di sejumlah lokasi lereng Merapi seperti Bukit Plawangan, Turgo, dan Bukit Bibis.

Keberadaan tanaman itu hingga kini masih bertahan meskipun menghadapi berbagai ancaman baik bencana alam seperti erupsi gunung juga perilaku manusia yang eksploitatif.

“Sebenarnya populasi anggrek endemik

Gunung Merapi

itu saat ini kian terancam, ancaman tidak hanya dari erupsi yang terjadi secara berulang, tetapi juga eksploitasi yang tidak bertanggung jawab,” kata pakar Agroteknologi yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Innaka Ageng Rineksane, Selasa 24 Juni 2025.

Populasi menurun drastis

Akibatnya, kata Innaka, habitat alami anggrek rusak dan populasinya terpantau menurun drastis. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin tanaman hias dengan ciri khas tiga gradasi warna ini akan mengalami kepunahan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga anggrek itu bertahan dengan metode ilmiah untuk lebih memperbanyak populasinya.

Misalnya lewat pengembangkan metode percepatan pertumbuhan melalui inovasi kultur jaringan berbasis bahan alami. Kultur jaringan ini dinilai relevan melihat pertumbuhan Anggrek itu yang secara alami tergolong lambat.

Anggrek Merapi, kata Innaka, umumnya berkembang biak hanya melalui biji yang jatuh atau tunas anakan. Maka langkah konservasi melalui teknik kultur jaringan untuk memperbanyak anggrek secara ex-situ atau di luar habitat aslinya dinilai relevan. “Melalui teknik ini, bibit anggrek dapat diperbanyak di laboratorium hingga menjadi plantlet yang siap ditanam kembali di alam,” kata dia.

Innaka mengakui, selama ini ongkos untuk biaya kultur jaringan cenderung mahal akibat penggunaan bahan kimia impor. Pihak UMY dalam penelitiannya belakangan coba mengganti bahan kimia impor tersebut menggunakan alternatif lokal yang lebih murah dan diklaim ramah lingkungan.

Alternatif bahan ramah lingkungan

Bahan-bahan kimia mahal seperti sitokinin benzilaminopurin dan media MS diganti dengan air kelapa, pupuk daun, dan pupuk organik cair. Hasilnya diklaim efektif dalam merangsang pertumbuhan tunas Vanda tricolor di laboratorium.

Inovasi tersebut telah diuji bersama petani petani anggrek di kawasan lereng Gunung Merapi.Mulai dari meperkenalkan media tanam alternatif dan diajarkan penggunaan pupuk organik untuk mendukung keberhasilan perbanyakan anggrek di lapangan.

Kalau metode ini diterapkan secara luas, tidak hanya akan mendukung konservasi, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi Vanda tricolor, mengingat tingginya permintaan pasar terhadap tanaman hias eksotis. “Kalau kita bisa memperbanyak dan mengkomersialkan anggrek ini, setidaknya bisa mengurangi eksploitasi dari alam liar,” kata dia.

Masyarakat pun tidak perlu mengambil langsung dari habitatnya di lereng Merapi. “Biarkan populasi alami tetap lestari, dan kita jual hasil kultur dari laboratorium,” imbuhnya.

Pupuk hayati berbasis bakteri

Meski perbanyakan bibit Anggrek itu sudah berhasil, tantangan lainnya dalam pelestarian ini adalah mempercepat masa pertumbuhan hingga berbunga yang secara alami memerlukan waktu cukup lama.

Innaka bersama timnya juga tengah mengembangkan pupuk hayati berbasis bakteri yang membantu menyediakan nutrisi bagi anggrek. Saat ini dengan pupuk itu, disebut sudah berhasil mengisolasi delapan jenis bakteri yang bisa mengencam kesuburan Anggrek. Langkah selanjutnya yakni uji molekuler untuk memastikan identitas dan efektivitas bakteri tersebut terhadap pertumbuhan Vanda tricolor itu.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa sebelumnya turut mengungkap jika keberadaan Anggrek Vanda Tricolor di habitat asalnya terus berkurang karena pengambilan secara berlebihan, kerusakan hutan akibat erupsi Merapi, hingga alih fungsi hutan.

“Upaya konservasi Anggrek Vanda tricolor dapat dilakukan secara optimal jika dibarengi upaya budidaya dan pengembangannya, sekaligus memperhatikan potensi ekonominya,” kata Danang.

Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa waktu terakhir juga giat menggelar

festival

Anggrek Merapi ini untuk mempopulerkan tanaman itu pada wisatawan. Di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sedikitnya tercatat 74 spesies anggrek Merapi, Vanda Tricolor termasuk yang paling ikonik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *