Ruang Kreativitas di Pinggiran Desa Sleman
Di tengah keindahan alam desa yang tenang, terdapat sebuah ruang kreativitas yang menawarkan berbagai aktivitas inovatif dan edukatif. Lokasinya berada di Dusun Betakan, Desa Sumberrahayu, Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ruang ini dikelola oleh lembaga nirlaba Yayasan Literasi Desa Tumbuh (YLDT) yang telah beroperasi selama setahun terakhir.
Ruang ini menjadi tempat bagi berbagai kegiatan yang mengedepankan kreativitas dan pembelajaran. Mulai dari workshop membuat lilin aromaterapi hingga daur ulang minyak jelantah, belajar alat musik tradisional, hingga menonton film bersama di bawah rindangnya kebun kelapa. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk belajar, tetapi juga mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan membangun ekonomi lokal.
Workshop Membuat Lilin Aromaterapi dan Sabun dari Minyak Jelantah
Salah satu acara yang digelar di ruang tersebut adalah workshop membuat lilin aromaterapi dan sabun cuci dari daur ulang minyak jelantah. Acara ini diikuti oleh sekitar 30 peserta, terutama ibu rumah tangga dari lima kabupaten/kota di Yogyakarta. Menurut Desy Ery Dani, pengelola ruang literasi itu, minyak jelantah sering kali dianggap sebagai limbah yang sulit dibuang. Namun, dengan pengolahan yang tepat, minyak ini bisa menjadi bahan baku yang bernilai.
Inisiatif ini berawal dari pengalaman sederhana warga yang sering kesulitan membuang limbah minyak goreng. Saat rencana workshop ini diumumkan, antusiasme peserta sangat tinggi, sehingga acara dibagi menjadi dua gelombang. Peserta dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dari rumah masing-masing.
Iqfi Muallizzati, salah satu peserta workshop, mengungkapkan bahwa bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana. Minyak jelantah yang sudah dimurnikan dicampur dengan asam stearat, pewarna minyak, dan pewangi. Sedangkan untuk sabun, campuran kimianya menggunakan bubuk soda api. Proses pembuatannya relatif mudah, meskipun pemurnian minyak jelantah membutuhkan waktu sekitar tiga minggu. Pemurnian bisa dilakukan dengan merendam kulit pisang, arang, atau bleaching earth dalam minyak tersebut.
Ruang Belajar untuk Perlindungan Anak
Selain menjadi lokasi workshop, ruang ini juga menjadi tempat pelatihan bagi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten yang bekerja sama dengan UNICEF. Selama tiga hari awal Agustus, berbagai kegiatan dilaksanakan, termasuk Nonton Bareng (Nobar) film tentang perjalanan anak muda Indonesia ke Suriah, diskusi, dan belajar memainkan angklung bersama anak-anak.
Pendiri YLDT, Noor Huda Ismail, menyatakan bahwa semua kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat perlindungan anak dari ancaman ekstremisme kekerasan seperti terorisme. Ia menekankan pentingnya memahami isu-isu global yang berkaitan dengan isu lokal agar bisa menciptakan pencegahan yang efektif.
Pada hari pertama, peserta diajak menonton film Road to Resilience yang mengisahkan perjalanan anak muda Indonesia ke Suriah, kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Hari kedua, peserta berbagi pengalaman dalam membangun narasi damai melalui media dalam jaringan maupun luar jaringan. Di hari terakhir, para peserta menikmati pementasan tari dan musik angklung dari anak-anak dampingan komunitas Aksara Tari dan Gema Literasi. Mereka juga ikut belajar memainkan angklung dan merasakan potensi budaya sebagai bagian dari upaya reintegrasi anak.
Dengan berbagai aktivitas yang menarik dan bermanfaat, ruang ini tidak hanya menjadi tempat kreativitas, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan masyarakat.




