Menjelajahi Sunda Wiwitan: Tradisi Kuno di Desa Adat Cireundeu, Cimahi

Posted on





,


Jakarta


– Terletak kurang lebih 7,6 kilometer dari tengah Kota Cimahi terdapat Kampung Adat Cireundeu yang tetap memelihara warisan budaya Sunda serta keyakinan leluhurnya. Diprediksi desa ini telah berdiri sejak zaman abad ke-16 dan saat ini didiami oleh warga dengan latar belakang etnis Tionghoa dan Sunda. Penduduknya mencerminkan variasi dalam hal agama dan kepercayaan mereka sendiri. Di sini tinggal sekitar 367 kepala keluarga atau setara dengan 1.200 penduduk, dimana 50 kepala keluarga atau sebanyak 800 orang merupakan bagian dari masyarakat adat yang mengamalkan suatu kepercayaan tradisional.
Sunda Wiwitan
.

Sunda Wiwitan datang dari dua istilah yakni Sunda dan Wiwitan. Istilah “Wiwitan” mengandung makna “awal”, “mulai”, atau “pengajaran awal”. Pengajian yang dipercayai komunitas tradisional tersebut disampaikan ke generasi selanjutnya melalui oral. Salah satu pengajarannya adalah
tri tangtu
Atau tiga prinsip utama dalam kehidupan, meliputi komitmen, kata-kata, serta perilaku atau tindakan yang positif.

Konsep Keesaan

Ais Pangampih atau tokoh utama dalam agama tersebut merupakan seorang pemimpin kepercayaan.
Kampung Adat Cireundeu
Abah Widi menegaskan bahwa keyakinan Sunda Wiwitan berpusat pada konsep keesaan, yaitu percaya akan eksistensi tuhan tunggal. Dia menyampaikan dalam dialek Sunda, penduduk di daerah Cirendeu merujuk kepada pencipta tersebut dengan sebutan Mahakawasa atau biasa juga disebut Mahakuasa. ”
Jadi sang Mahakasawa memiliki kekuatan atas seluruh alam semesta dan ciptaan-Nya, setara dengan manusia yang ditinggikan oleh penciptanya. Di sebutkan bahwa si Kasawa tidak ada bandingnya.
(Jadi Yang Mahakuasa itu memiliki kendali atas segala sesuatu di alam semesta serta karyanya sendiri, termasuk manusia yang dipandang tinggi oleh penciptanya. Disebut sebagai Yang Mahakuasa karena tak ada yang bisa menyamainya),” ujar Abah Widi saat ditemui pada akhir Maret 2025.

Menurut Abah Widi, ada dua jenis ibadah bagi para pemeluk agama Sunda Wiwitan di daerah Cireundeu. Pertama, mereka menyembah Mahakuasa sambil selalu ingat bahwa manusia merupakan ciptaan-Nya dan wajib untuk merawat serta berperilaku baik pada semua ciptaan lainnya. Kedua, ibadah juga dilakukan melalui hubungan harmonis dengan makhluk hidup lain seperti manusia, tanaman, maupun hewan, yaitu dengan melakukan perbuatan-perbuatan positif dalam keseharian.

Tiap tahun, komunitas Sunda Wiwitan merayakan Awal Tahun Sunda yang dikenal sebagai Tutup Tahun Ngemban Tahun. Perayaan ini sering diisi dengan pementasan kesenian sekitar tengah bulan. Selain itu, terdapat juga beberapa aktivitas lainnya.
nyepen
Atau tetap diam di area terpencil selama seminggu mulai tanggal 1 hingga 7 Syuro. Selama itu,
nyepen
terjadi, mereka tidak mengonsumsi makanan maupun minuman, tetap di dalam kamar, diam seribu bahasa, serta hanya melakukan refleksi pribadi untuk terus mensyukuri. Karena hal tersebut, aktivitas ini hanya dikerjakan oleh individu yang sanggup melakukannya.


Kepercayaan yang Membumi

Di
kampung adat
Di kota militer tersebut, penduduk mengetahui bagaimana karakteristik suatu bangsa dan individu. Karakteristik bangsa mencakup budaya, bahasa, tulisan, serta pigmen kulit. Sementara itu, karakteristik individual merujuk pada panduan gaya hidup dalam masyarakat, seperti rasa belas kasihan atau penghargaan terhadap sesama.
undak usuk
atau keturunan, dan
Wiwaha Yudha Naraga berkata, “Dalam hal pernikahan dan peperangan, seseorang harus mempertimbangkan atau mengendalikan hasrat yang ada dalam dirinya.”
(
W
iwaha yudha naraga
, kita perlu memiliki pertimbangan atau berani menentang hawa nafsu yang ada di dalam diri kita,” kata Abah Widi dengan jelas.

Cara yang dilakukan oleh
masyarakat adat
Untuk melindungi lingkungan dapat dilakukan dengan mengacu pada hukum adat bernama hukum adikodrati, hukum pasti, atau hukum ketuhanan. Salah satu aturan ini berlaku saat seseorang memasuki hutan. Masyarakat setempat maupun para wisatawan dilarang untuk memakai alas kaki supaya ekosistem tetap lestari. Tambahan lagi, siapa pun yang masuk hutan tidak boleh pakai baju berwarna merah karena warna tersebut memiliki arti penting bagi manusia; bisa jadi berkaitan dengan darah, perasaan, ataupun hasrat mereka.

Ritual Alam

Untuk memberi kembali kepada alam sebagai wujud balasan atas pemberian-Nya, terdapat sebuah tradisi dikenal sebagai upacara alam, salah satunya adalah melindungi sumber air. Abah Widi, seorang Ais Pangampih kelima generasi di Desa Tradisional Cireundeu, menyatakan bahwa praktek tersebut direalisasikan lewat perayaan adat bersama tawuran atau sajian. Upacara ini menjadi ekspresi syukur kepada alam serta sang Pencipta berkat karunia alam. Melalui prosesi ini, penduduk setempat merasa telah memulangkan apa pun yang sudah mereka petik daripada alam.

Seorang anggota dari Masyarakat Adat Kampung Cireundeu bernama Tri menjelaskan bagaimana rutinitas beragamanya setiap hari. Menurutnya, dalam proses bertahta tersebut termasuk melakukan olah rasa sebelum dan usai istirahat malam. Ini melibatkan pemeriksaan atas tindak-tanduk mereka sendiri serta upaya untuk meningkatkan diri sehingga tak lagi merugikan atau menganiaya ciptaan Tuhan lainnya.

Tri juga menyampaikan bahwa tingkat toleransi di Kampung Adat Cirendeu sangat bagus. Orang-orang dari Agama Sunda Wiwitan dapat hidup beriringan dengan mereka yang memiliki keyakinan atau agama yang berbeda. Dia menambahkan, “Prinsip kami bukanlah tentang satu bentuk pengakuan tetapi lebih pada satu pemahaman. Kami selalu menganjurkan untuk saling mencintai.”


NIA NUR FADILLAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *