Warga Rempang Gelar Pesta Rakyat, Tampilkan Penolakan PSN

Posted on

Rakyat Pulau Rempang Merayakan Kemerdekaan dengan Semangat Perjuangan

Di tengah keramaian yang memenuhi Simpang Sungai Raya, Pulau Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, masyarakat pulau Rempang berkumpul pada Sabtu malam, 23 Agustus 2025. Acara ini merupakan bagian dari “Pesta Rakyat Sungai Raya: Kobarkan Semangat, Lumpuhkan Rasa Takut, Maju Tak Gentar, Berani Bergerak Demi Kebenaran” yang digelar untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI. Pesta ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi wadah bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi dan kekecewaan terhadap pemerintah.

Sungai Raya adalah salah satu kampung yang terdampak oleh Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City. Tahun 2023 lalu, kawasan ini ditetapkan sebagai taman buru oleh Kementerian Kehutanan. Namun, warga menolak karena mereka sudah tinggal di sana sejak tahun 1883. Mereka menganggap bahwa tanah ini bukanlah lahan kosong, melainkan kampung yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang mereka.

Menyuarakan Kebenaran dan Keadilan

Acara dimulai dengan penyajian 80 tumpeng untuk tamu undangan. Setelah itu, berbagai kata sambutan disampaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat, termasuk Hengki, Ketua Panitia Acara. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa meskipun Indonesia sudah merdeka selama 80 tahun, rakyat masih belum merasakan kemerdekaan secara nyata. Ia menegaskan bahwa masyarakat Pulau Rempang ingin menunjukkan bahwa kampung mereka bukanlah taman buru, melainkan tempat tinggal yang sah.

Selain itu, acara ini juga menampilkan berbagai tarian daerah seperti tarian Sumatera, Melayu, dan tarian dari wilayah Timur. Pertunjukan tersebut dihadiri hampir 1.000 orang, yang memberikan tepuk tangan meriah setiap kali ada penampilan. Hengki menegaskan bahwa warga masih terus berjuang demi menjaga kampung mereka yang ditinggalkan oleh para leluhur.

Persatuan dalam Keberagaman

Tidak hanya lintas suku, warga Rempang yang terdiri dari berbagai agama juga hadir dalam acara ini. Suster Gereja Katolik Rempang, Sredita, menyampaikan bahwa acara ini menjadi momen penting untuk mempertemukan berbagai golongan dalam satu tujuan, yaitu memperjuangkan tanah kampung mereka. Ia menambahkan bahwa warga saat ini masih menolak tindakan pemerintah yang merampas tanah mereka, sehingga kehidupan semakin sulit.

Salah satu tokoh penting yang hadir dalam acara ini adalah Siti Hawa atau Nek Awe, seorang lansia berumur hampir 80 tahun yang menjadi simbol perjuangan warga Rempang. Ia tampak duduk di bangku depan dan ikut memeriahkan acara dengan berjoget Melayu bersama warga lainnya. Ia menyampaikan bahwa warga masih menolak proyek Rempang Eco City dan transmigrasi lokal karena belum mendapatkan keadilan.

Cerita Korban PSN Lain

Dalam acara penutup, Miswadi, warga Sembulang Hulu yang baru saja kembali dari Mahkamah Konstitusi Jakarta, menyampaikan pesan penting kepada warga Rempang. Ia mewakili warga dalam gugatan status PSN dan mengungkapkan bahwa korban PSN tidak hanya ada di Rempang, tetapi juga di berbagai daerah lain seperti Sulawesi. Ia menyampaikan bahwa banyak korban PSN yang diberi imbalan besar-besaran, tetapi tetap menolak karena merasa tidak adil.

Miswadi menekankan bahwa persatuan warga sangat penting, karena jika sebagian tanah sudah dirampas, yang lainnya akan mengikuti. Ia berharap warga terus berjuang dengan hati, bukan hanya dengan pikiran, karena banyak godaan yang bisa mengganggu semangat perjuangan.

Perjuangan Terus Berlanjut

Pesta Rakyat Sungai Raya bukan hanya sekadar acara perayaan, tetapi juga menjadi bentuk perlawanan terhadap tindakan pemerintah yang dinilai tidak adil. Warga Rempang tetap bertekad untuk menjaga kampung mereka dan menuntut keadilan. Mereka percaya bahwa kebenaran akan menang, asalkan semua pihak bersatu dan berjuang dengan semangat yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *